Curhat : Kehormatan Diri di Zona Instagram
Akhir-akhir ini saya jadi resah sendiri sama judul di atas wkwkwkwkwk. Mungkin yang baca bakal menggumam: ih whyyyyyyy so serious? Ya namanya juga Apik. Tapi saya mending serius daripada terlena dalam beragama :D
Rasanya diingatkan berkali-kali baik dari buku, quran, maupun kajian. Tentang pentingnya seorang perempuan menjaga kehormatannya, pun kehormatan suaminya, kehormatan keluarganya. Perempuan bisa punya kunci surga kalau menjaga itu. Dan bisa ekspress punya kunci ke neraka kalau sudah hilang rasa malunya, sudah hilang upaya penjagaan kehormatannya.
Apalagi di era-era seperti ini. Yang tingal post atau share bisa cepat sekali informasi/konten itu menyebar. Wussssss. Sangat visual, dan banyak orang yang justru pengen ‘terlihat’. Terlihat sebenernya nggak papa ya, asal koridornya positif. Kalau nyerempet menggadaikan kehormatan? Kita harus hati-hati :)
Fenomena beli followers juga bisa berkaitan kalau ditelaah lebih lanjut. Ada motif biar terlihat, jadi selebgram, dipuji dan dapat endorse. Ladang bisnis baru untuk cari uang. Karena hari gini tarif endorse juga lumayan XD. Fenomena beli followers untuk personal juga bisa jadi investasi buat balik modal kalo udah diendorse dan paidpromote. Plusnya, jadi hits juga. Sesuatu yang cukup penting jaman now 😄😄😄😄.
Padahal hadistnya jelas : “Peliharalah untuk menjaga diri kamu dengan harta kamu.” (HR Ad Dailami). Kehormatan diri jauuuh lebih berharga daripada harta. Kalo bisa pake harta buat jaga diri, lakukan. Bukan sebaliknya, kehormatan diri dikurangi buat harta :D. Eh kok malah bahas itu hihi, berhubung nggak lagi menyoroti tentang itu. Skip dikit dulu :D
Menjaga kehormatan yang dimaksud yang seperti apa? Dalam Islam kita mengenal kata Iffah. Iffah disini adalah upaya penjagaan diri dari hal-hal yang tercela. Memelihara rasa malu termasuk salah satunya :)
Di negri bebas berekspresi alias sosial media, khususnya di Instagram yang sangat visual, penjagaan kehormatan nggak bisa serta merta menjadi bawaan kita darisononya. Penjagaan kehormatan perlu dipupuk dengan bijak dan selalu diupdate, diasah kembali pemahamannya.
Lucunya, instagram sekarang cenderung mentrigger penggunanya untuk makin membuka tabir kehormatan supaya makin asyik. Apalagi sejak kelahiran IGstory. Filter makin sip, makin unyu dan banyak pilihan. Makanya mungkin sering ya berseliweran di timeline stories kita; posenya sebagai muslimah nggak semestinya–yang manyun manyunlah, gaya duck face, gaya fish gape yang mulutnya agak mbuka biar menggodah, kedip-kediplah, cerita manjah, dsb dsb wkwkwkwkwk. Kadang juga upload tentang kelucuan plus keromantisan dia sama pasangan halalnya, tapi kadang salah kamar, yg terlalu romatis ikutan kesebar juga haha, malah kadang ada juga yang merendahkan suaminya, bisa yang suaminya didandani sedemikian rupa, yang diisengin, kadang juga upload aib-aib kecil (yang kadang lucu sih, tapi itu aibnya suaminya gitu. Tapi ini subjektif sekali ya. Kembali ke kebijakan privasi masing-masing. Heu.) Karena ya memang fiturnya menggoda bangettt, bisa banget bikin lucu, bikin kita cantik, bikin lebih menarik. Bikin kita juga diapresiasi temen-temen. Bikin keasyikan dapet respon komentar-komentar yang masuk.
Tentu, kalau kita bijak, gimanapun asyiknya filter-filter–kita nggak akan tergoda.
Tapi saya ini labilnya tumpeh-tumpeh…kadang masih banyak tergodanya. Kadang juga pengen euy lucu lucuan begituuu. Perlu banyak diingatkan hahaaaaa.
Jadi seringkali, saya berusaha mati-matian untuk nggak mempublish foto selfie kekinian penuh filter genit atau pose-pose lucu suami saya yang pengen saya abadikan (padahal IG story nggak abadi. Cuma 24 jam. Catatan amal kita abadi. Pft). Seberusaha itu :“”“”) Sampe kadang melobi, “mas boleh nggak aku upload ini? Lucu banget.”
Dulu saya bete, masa gini-gitu aja enggak boleh. Tapi ternyata, beban kewajiban suami gede juga ya buat mendidik dan menjaga istri. Dulu juga pernah disidang sama ayah ibu pas pasang pose melet jaman facebookan. Hahaha. Ternyataaaa kewajiban menjaga anak perempuan itu lumayan berat. Pelan-pelan saya ngerti…
Ternyata, selektif mengupload juga upaya saya beribadah. Menjaga kehormatan saya dan menjaga kehormatan suami, kehormatan keluarga. Bagi yang belum nikah ini juga upaya penjagaan diri yaaa dari laki-laki. Hehe kita kan gabisa tuh memisahkan diri secara utuh dengan laki-laki dalam bergaul, tapi kita bisa membatasinya 😄.
Selepas nikah saya jadi lebih sadar soal ini, mungkin dulu pas single belum kerasa ya. Masih pose macem-macem. Pecicilan. Suara mendayu-dayu. Foto cantik biar menarik. Tapi sekarang, saya jadi lebih hati-hati. Jadii yang belum nikah dan udah berupaya sedemikian rupa menjaga kehormatan, masyaAllaaaahhhhhhh huhu. Karena saya nggak bisa ngulang jaman gadis, jadi ikhtiarnya nanti disalurkan ke mendidik anak-anak gadis kelak. Pemahamannya dipupuk dari sekarang wkwkwk.
Jadi sekarang saya ngewanti-wanti diri saya sendiri: kalau saya malu-maluin, kalau saya nggak menjaga diri saya sendiri, suami saya, ayah saya, dan adik laki-laki saya juga kena hisab. Kami semua kena. Cuma karena postingan-postingan saya. Oh. Ya Rabb. Mahalnya harga menjaga kehormatan. Semoga, kita senantiasa dimampukan yaaaa.
Hahaaa curhatnya panjang sekalii. Semoga jadi manfaat. Kalau ada salah persepsi, bolehlah di kolom komen. Semoga bisa saling belajar :D
*Disclaimer : sekali lagi, ini subjektif sekali. Kembali ke kebijakan privasi dan standar temen-temen sendiri. Semoga tulisan ini dihitung upaya untuk mengingatkan sesama muslimah, kan kita bersaudaraaaaa :)